Don’t take action without having a plan first. It doesn’t have to be a good plan, but some plan is better than no plan. –Pooh

Sistem Informasi Berbasis Komputer

Nama: Siti Melani

NPM: 17512072

Kelas: 4PA01

 1.Sistem Informasi Berbasis Komputer

Sebelumnya telah dijelaskan mengenai sitem informasi, yakni  Sistem Informasi adalah kombinasi dari teknologi informasi dan aktivitas orang yang menggunakan teknologi itu untuk mendukung operasi dan manajemen.  Selanjutnya akan dibahas mengenai sistem informasi berbasis komputer. Terdapat beberapa sumber yang menjelaskan atau mendefinisikan sistem berbasis komputer atau yang biasa disebut dengan CBIS (Computer Based Information System).

Pertama, Sistem Informasi berbasis komputer mengandung arti bahwa komputer memainkan peranan  penting dalam sebuah sistem informasi. Secara teori, penerapan sebuah Sistem Informasi memang tidak harus menggunakan komputer dalam kegiatannya. Tetapi pada prakteknya tidak mungkin sistem informasi yang sangat kompleks itu dapat berjalan dengan baik jika tanpa adanya komputer. Sistem Informasi yang akurat dan efektif, dalam kenyataannya selalu  berhubungan dengan istilah computer-based atau pengolahan informasi yang berbasis pada komputer (diakses melalui  www.academia.edu).

Kedua, CBIS didefinisikan sebagai suatu integrasi dari perangkat keras dan lunak serta peran manusia yang didesain untuk memproduksi informasi yang berguna secara akurat, cepat dan terintegrasi. Digunakan untuk tujuan pengambilan keputusan (diakses melalui Teach-ict.com)

Ketiga, Sistem Informasi Berbasis Komputer atau Computer Based Information System (CBIS) merupakan sistem pengolahan suatu data menjadi sebuah informasi yang berkualitas dan dapat dipergunakan sebagai alat bantu yang mendukung pengambilan keputusan, koordinasi dan kendali serta visualisasi dan analisis. Beberapa istilah yang terkait dengan CBIS antara lain adalah data, informasi, sistem, sistem informasi dan basis komputer (diakses melalui threedees.byethost18.com).

2.Macam-macam Sistem Informasi Berbasis Komputer

Sistem informasi berbasis komputer memiliki fokus yang terbagi atau berbagai jenis, diantaranya:

a. Fokus awal pada Data (electronic data processing – EDP)

Fokus ini didukung dengan munculnya punched card dan keydriven bookkeeping machines, dan perusahaan umumnya mengabaikan kebutuhan informasi para manajernya. Aplikasi yang digunakan adalah sistem informasi akuntasi (SIA). SIA merupakan suatu komponen organisasi yang mengumpulkan, mengklasifikasikan, mengolah, menganalisa dan mengkomunikasikan informasi finansial dan pengambilan keputusan yang relevan bagi pihak luar perusahaan dan pihak eksternal.

b. Fokus baru pada Informasi (management information system – MIS)

Seiring dengan diperkenalkannya generasi baru alat penghitung yang memungkinkan pemrosesannya lebih banyak. Hal tersebut diorientasikan untuk konsep penggunaan komputer sebagai sistem informasi manajemen (SIM), yang berarti bahwa aplikasi komputer harus diterapkan dengan tujuan utama untuk menghasilkan informasi manajemen. SIM dapat pula diartikan sebagai suatu sistem informasi yang menghasilkan hasil keluaran (output) dengan menggunakan masukan (input) dan berbagai proses yang diperlukan untuk memenuhi tujuan tertentu dalam suatu kegiatan manajemen.

c. Fokus Revisi pada Pengambilan Keputusan (Decision support system – DSS)

DSS merupakan hal yang berbeda dengan konsep SIM. DSS adalah sistem penghasil informasi yang ditujukan pada suatu masalah tertentu yang harus dipecahkan serta diambil keputusannya oleh manajer.

d. Fokus sekarang pada Komunikasi (office automation – AO)

Fokus ini merupakan sebuah rencana untuk menggabungkan teknologi tinggi melalui perbaikan proses pelaksanaan pekerjaan demi meningkatkan produktifitas pekerjaan. OA memudahkan komunikasi dan meningkatkan produktivitas di antara para manajer dan pekerja kantor melalui penggunaan alat-alat elektronik. OA telah berkembang meliputi beragam aplikasi seperti konferensi jarak jauh (teleconference), voice mail, e-mail (surat elektronik), electronic calendaring, facsimile transmission, dan desktop publishing. Istilah lainnya dalam menggunakan semua aplikasi AO tersebut dinamakan dengan kantor virtual (virtual office).

e. Fokus potensial pada Konsultasi (artificial intelligence/expert sistem – AI/ES)

Ide dasar AI adalah komputer dapat diprogram untuk melaksanakan sebagian penalaran logis yang sama seperti manusia. Sistem pakar adalah suatu sistem yang berfungsi sebagai seorang spesialis dalam suatu bidang. Sistem yang menggambarkan segala macam sistem yang menerapkan kecerdasan buatan untuk pemecahan masalah dinamakan dengan sistem berbasis pengetahuan (knowledge-bases systems).

3.Pemrosesan Batch, Pemrosesan Online, dan Sistem Realtime

a. Batch Processing

Batch processing adalah suatu model pengolahan data, dengan menghimpun data terlebih dahulu, dan diatur pengelompokkan datanya dalam kelompok-kelompok yang disebut batch. Tiap batch ditandai dengan identitas tertentu, serta informasi mengenai data-data yang terdapat dalam batch tersebut. Setelah data-data tersebut terkumpul dalam jumlah tertentu, data-data tersebut akan langsung diproses.

Contoh dari penggunaan batch processing adalah e-mail dan transaksi batch processing.

b. Online Processing

Online Processing adalah sebuah sistem yang mengaktifkan semua periferal sebagai pemasok data, dalam kendali komputer induk. Informasi-informasi yang muncul merupakan refleksi dari kondisi data yang paling mutakhir, karena setiap perkembangan data baru akan terus diupdatekan ke data induk.

Contoh penggunaan online processing adalah transaksi online.

c. Real-Time Processing

Real-Time Processing adalah mekanisme pengontrolan, perekaman data, pemrosesan yang sangat cepat sehingga output yang dihasilkan dapat diterima dalam waktu yang relatif sama.

4.Database

Database atau basis data adalah kumpulan data yang disimpan secara sistematis di dalam komputer yang dapat diolah atau dimanipulasi menggunakan perangkat lunak (program aplikasi) untuk menghasilkan informasi. Pendefinisian basis data meliputi spesifikasi berupa tipe data, struktur data dan juga batasan-batasan data yang akan disimpan. Basis data merupakan aspek yang sangat penting dalam sistem informasi dimana basis data merupakan gudang penyimpanan data yang akan diolah lebih lanjut. Basis data menjadi penting karena dapat mengorganisasi data, menghindari duplikasi data, hubungan antar data yang tidak jelas dan juga update yang rumit.

 

Sumber:

https://www.academia.edu/6066367/Makalah_Sistem_Informasi_Berbasis_Komputer

http://www.teach-ict.com/contributors/mark_bebbington/Computer_Based_Information_System.doc

http://www.gurupendidikan.com/perbedaan-batch-online-real-time-processing-method/

http://www.termasmedia.com/65-pengertian/69-pengertian-database.html

http://threedees.byethost18.com/face/Evolusi%20dan%20Aplikasi%20Sistem%20Informasi%20Berbasis%20Komputer.pptx

Sistem Informasi, Arsitektur Komputer, dan Struktur Kognisi Manusia

Nama: Siti Melani

NPM: 17512072

Kelas: 4PA01

 

1.Sistem Informasi Menurut Berbagai Sumber

Sistem informasi merupakan kombinasi dari teknologi informasi dan aktivitas manusia yang tentunya menggunakan teknologi untuk mendukung organisasi dan manajemen. Terdapat beberapa ahli yang memberikan penjelasan berbeda mengenai sistem informasi itu sendiri. Erwan Arbie menjelaskan sistem informasi sebagai suatu sistem dalam suatu organisasi yang mempertemukan kebutuhan pengolahan transaksi harian, bantuan dan dukungan operasi, bersifat manajerial dari suatu organisasi dan membantu memfasilitasi penyediaan laporan yang diperlukan. Menurut Tafri D. Muhyuzir, sistem informasi adalah data yang dikumpulkan, diklasifikasikan dan diolah sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah informasi entitas terkait tunggal dan mendukung satu sama lain sehingga menjadi informasi berharga bagi mereka yang menerimanya. Adapula O’Brien yang mengatakan bahwa sistem informasi adalah kombinasi dari setiap unit dikelola orang (orang), hardware (perangkat keras), software (perangkat lunak), jaringan komputer dan jaringan komunikasi data (komunikasi), dan database (basis data) yang mengumpulkan, mengubah, dan menyebarkan informasi tentang yang bentuk organisasi (Dudung, 2015).

 

2.Pengertian Sistem Informasi Psikologi dan Contoh Penggunaan Sistem Informasi dalam Psikologi

Kurniawati mendefinisikan sistem informasi psikologi sebagai suatu bidang kajian ilmu yang mempelajari tentang hubungan antara ilmu psikologi itu sendiri dalam kaitannya dengan penggunaan komputer dan aplikasinya dalam bidang psikologi. Selain itu sistem informasi psikologi merupakan suatu sistem yang menyediakan informasi-informasi yang berkaitan dengan ilmu psikologi yang dapat dijadikan untuk meningkatkan pengguna dalam pengambilan suatu keputusan terhadap penelitian, perencana, dan pengelolaan.

Contohnya perusahaan sekarang ini banyak menggunakan software tentang alat tes agar waktu yang digunakan dalam menyeleksi calon karyawan baru lebih cepat dan efisien, serta tidak membuang tenaga para penyeleksinya juga. Seperti aplikasi lembar jawaban tes psikologi EPPS yang dibuat menjadi software agar lebih efisien dalam pengerjaan scoringnya.

Lembar skoring EPPS

3.Arsitektur Komputer

Menurut Iwangsa arsitektur disini dapat didefinisikan sebagai gaya konstruksi dan organisasi dari komponen-komponen sistem komputer. Walaupun elemen-elemen dasar komputer pada hakekatnya sama atau hampir semuanya komputer digital, namun terdapat variasi dalam konstruksinya yang merefleksikan cara penggunaan komputer yang berbeda.

Tingkatan dalam Arsitektur Komputer

Ada sejumlah tingkatan dalam konstruksi dan organisasi sistem komputer. Perbedaan paling sederhana diantara tingkatan tersebut adalah perbedaan antara hardware dan software.

a. Tingkatan Dasar Arsitektur Komputer

Pada tingkatan ini Hardware sebagai tingkatan komputer yang paling bawah dan paling dasar, dimana pada hardware ini “layer” software ditambahkan. Software tersebut berada di atas hardware, menggunakannya dan mengontrolnya. Hardarwe ini mendukung software dengan memberikan atau menyediakan operasi yang diperlukan software.

b. Multilayerd Machine

Tingkatan dasar arsitektur komputer kemudian dikembangkan dengan memandang sistem komputer keseluruhan sebagai “multilayered machine” yang terdiri dari beberapa layer software di atas beberapa layer hardware.

 

Berikut tingkatan layer tersebut :

 

7.   Applications Layer  
6. SOFTWARE LEVEL    
Higher Order Software Layer  
5.      
  Operating System Layer  
       
4.   Machine Layer  
3. HARDWARE LEVEL    
Microprogrammed Layer  
2.      
  Digital Logic Layer  
1.      
  Physical Device Layer  
       

 

Keterangan :

a) Physical Device Layer, merupakan komponen elektrik dan elektronik yang sangat penting.

b) Digital Logic Layer, elemen pada tingkatan ini dapat menyimpan,memanipulasi, dan mentransmisi data dalam bentuk represeotasi biner sederhana.

c) Microprogrammed Layer, menginterprestasikan instruksi bahasa mesin dari layer mesin dan secaa langsung menyebabkan elemen logika digital menjalankan operasi yang dikehendaki. Maka sebenarnya ia adalah prosesor inner yang sangat mendasar dan dikendalikan oleh instruksi program kontrol primitifnya sendiri yang disangga dalam ROM innernya sendiri. Instruksi program ini disebut mikrokode dan program kontrolnya disebut mikroprogram.

d) Machine Layer, adalah tingkatam yang paling bawah dimana program dapat dituliskan dan memang hanya instruksi bahasa mesin yang dapat diinterprestasikan secara langsung oleh hardware.

e) Operating System Layer, mengontrol cara yang dilakukan oleh semua software dalam menggunakan hardware yang mendasari (underlying) dan juga menyembunyikan kompleksitas hardware dari software lain dengan cara memberikan fasilitasnya sendiri yang memungkinkan software menggunakan hardware tersebut secara lebih mudah.

f) Higher Order Software Layer, mencakup semua program dalam bahasa selain bahasa mesin yang memerlukan penerjemahan ke dalam kode mesin sebelum mereka dapat dijalankan. Ketika diterjemahkan program seperti itu akan mengandalkan pada fasilitas sistem operasi yang mendasari maupun instruksi-instruksi mesin mereka sendiri.

g) Applications Layer, adalah bahasa komputer seperti yang dilihat oleh end-user.

 

4.Struktur Kognisi Manusia

Jean Piaget menyebut bahwa struktur kognitif sebagai skemata (Schemas), yaitu kumpulan dari skema-skema. Seseorang individu dapat mengikat, memahami, dan memberikan respons terhadap stimulus disebabkan karena bekerjanya skemata ini. Skemata ini berkembang secara kronologis, sebagai hasil interaksi antara individu dengan lingkungannya. Dengan demikian seorang individu yang lebih dewasa memiliki struktur kognitif yang lebih lengkap dibandingkan ketika ia masih kecil. Piaget memakai istilah scheme secara interchangeably dengan istilah struktur. Scheme adalah pola tingkah laku yang dapat diulang . Scheme berhubungan dengan : (i) Refleks-refleks pembawaan ; misalnya bernapas, makan, minum, (ii) Scheme mental ; misalnya scheme of classification, scheme of operation. (pola tingkah laku yang masih sukar diamati seperti sikap, pola tingkah laku yang dapat diamati). Jika schemas / skema / pola yang sudah dimiliki anak mampu menjelaskan hal-hal yang dirasakan anak dari lingkungannya, kondisi ini dinamakan keadaan ekuilibrium (equilibrium), namun ketika anak menghadapi situasi baru yang tidak bisa dijelaskan dengan pola-pola yang ada, anak mengalami sensasi disekuilibrium (disequilibrium) yaitu kondisi yang tidak menyenangkan.

 

5.Keterkaitan antara Struktur Kognisi Manusia dengan Arsitektur Komputer

Struktur kognisi manusia dan arsitektur komputer memiliki kaitan yang sangat erat, karena komputer dan kognisi manusia mempunyai suatu kesamaan dalam memproses suatu informasi, seperti menerima (receives), menyimpan (storage), menarik (retrieves), mentranformasi (transforms), dan mentransmisi informasi (transmits). Manusia mempermudah pekerjaannya dengan melakukan berbagai upaya pengembangan teknologi dalam berbagai bidang aktivitas dan kebutuhannya. Teknologi yang mampu mempemudah pekerjaan manusia pun kini telah populer dengan yang namanya komputer, baik dalam bentuk pekerjaan yang mengandalkan kontribusi langsung dengan kemampuan berpikir (mengolah data dll) maupun pekerjaan yang berhubungan dengan tenaga (pemograman mesin produksi). Komputer itu sendiri dapat menyimpan dan memproses data sesuai dengan kebutuhan penggunanya, yaitu manusia. Perbedaannya adalah pengetahuan yang ada dalam otak manusia merupakan hasil dari proses perkembangan kognitif manusia sedangkan pada komputer adalah hasil ciptaan manusia yang diperoleh dari pengetahuan manusia yang kemudian digantikan dengan nama program.

 

6.Kelebihan dan Kelemahan Arsitektur Komputer dibandingkan Struktur Kognisi Manusia

Kelebihan arsitektur komputer:

  • Memiliki processor yang berjumlah lebih dari satu
  • Bisa digunakan oleh banyak pengguna (multi user)
  • Dapat membuka beberapa aplikasi dalam waktu bersamaan
  • Kecepatan kerja processornya hingga 1GOPS (Giga Operations Per Second)

Sedangkan, kelebihan struktur kognisi :

  • Struktur kognisi lebih sistematis sehingga memiliki arah dan tujuan yang jelas
  • Banyak memberi motivasi agar terjadi proses belajar
  • Mengoptimalisasikan kerja otak secara maksimal

 

Namun terdapat pula kekurangan arsitektur komputer:

  • Karena ukurannya yang besar, maka diperlukan ruangan yang besar untuk menyimpannya
  • Harganya sangat mahal
  • Interface dengan pengguna masih menggunakan teks
  • Membutuhkan daya listrik yang sangat besar

Sedangkan, kekurangan struktur kognisi:

  • Membutuhkan waktu yang cukup lama
  • Terkadang sulit mengaplikasikannya dikehidupan sehari-hari, karena tergantung individu masing-masing dalam mengoptimalkan cara berpikir mereka

 

 

Sumber:

ana.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/…/SISTEM+INFORMASI.PPT

Dudung. (2015). 12 pengertian dan fungsi sistem informasi menurut para ahli. http://www.dosenpendidikan.com/12-pengertian-dan-fungsi-sistem-informasi-menurut-para-ahli/ (diakses pada 24 Oktober 2015).

http://iwangsa.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/31945/VIII.+Arsitektur+Komputer+(10-11).pdf. (diakses pada 24 Oktober 2015).

http://loverboy.blogdetik.com/2012/11/14/analisa-perbedaan-struktur-kognitif-manusia-dan-arsitektur-komputer/ (diakses pada 24 Oktober 2015).

http://physicsmaster.orgfree.com/Artikel%20Ilmiah%202.html.(diakses pada 24 Oktober 2015).

 

Artikel 6: Konsep Carl Rogers tentang perilaku atau kepribadian

Nama: Siti Melani

NPM: 17512072

Kelas: 3PA01

 

Konsep Carl Rogers tentang perilaku atau kepribadian

Unsur-unsur terapi

Munculnya masalah

Pandangan client-centered tentang sifat manusia menolak konsep tentang kecenderungan-kecenderungan negatif dasar. Sementara beberapa pendekatan beranggapan bahwa manusia menurut kodratnya adalah irasional dan berkencederungan merusak terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain kecuali jika telah menjalani sosialisasi. Rogers menunjukkan kepercayaan yang mendalam pada manusia. Ia memandang manusia tersosialisasi dan bergerak ke muka, berjuang untuk berfungsi penuh, serta memiliki kebaikan yang positif pada intinya yang terdalam.Terapi client-centered berakar pada kesanggupan klien untuk sadar dan membuat putusan-putusan.

Tujuan terapi dan peran terapis

Tujuan dasar terapi client-centered adalah menciptakan iklim yang kondusif bagi usaha membantu klien untuk menjadi seorang pribadi yang berfungsi penuh. Terapis perlu mengusahakan agar klien bisa memahami hal-hal yang ada di balik topeng yang dikenakannya.

Peran terapis client-centered­ berakar ada cara-cara keberadaannya dan sikap-sikapnya, bukan pada penggunaan teknik-teknik yang dirancang untuk menjadikan klien “berbuat sesuatu”. Terapis menggunakan dirinya sendiri sebagai alat untuk mengubah. Dengan menghadapi klien pada taraf pribadi ke pribadi,  maka “peran” terapis adalah tanpa peran.

Metode-metode dalam Person Centered Therapy

Dalam kerangka client-centered  teknik-tekniknya dalah pengungkapan dan pengkomunikasian penerimaan respek, dan pengertian, serta berbagi upaya dengan klien dalam mengembankan kerangka acuan internal dengan memikirkan, merasakan, dan mengeksplorasi. Teknik-teknik harus menjadi suatu pengungkapan yang jujur dari terapis, dan tidak bisa digunakan secara sadar diri sebab terapis tidak akan menjadi sejati.

 

Sumber:

Corey, G. (2007). Teori dan praktek konseling dan psikoterapi. Bandung: Refika Aditama

Artikel 5: Konsep dasar teori dari pandangan humanistik eksistensial tentang perilaku atau kepribadian

Nama: Siti Melani

NPM: 17512072

Kelas: 3PA01

Konsep dasar teori dari pandangan humanistik eksistensial tentang perilaku atau kepribadian

Unsur-unsur Terapi

Munculnya masalah

Berfokus pada kondisi manusia, suatu sikap yang menekankan pada pemahaman atas manusia alih-alih suatu sistem teknik-teknik yang digunakan untuk mempengaruhi klien.

Tujuan terapi dan peran terapis

Terapi eksistensial bertujuan agar klien mengalami keberadaaanya secara otentik dengan menjadi sadar atas keberadaan dan potensi-potensi serta sadar bahwa ia dapat membuka diri dan bertindak berdasarkan kemampuannya. Pada dasarnya, tujuan terapi eksistensial adalah meluaskan kesadran diri klien, dan karenanya meningkatkan kesanggupan pilihannya, yakni menjadi bebas dan bertanggung jawab atas arah hidupnya.

Tugas utama terapis adalah berusaha memahami klien sebagai ada dalam-dunia. Teknik yang digunakan mengikuti alih-alih mendahului pemahaman. Karena menekankan pada pengalaman klien sekarang, para terapis eksistensial menunjukkan keleluasaan dalam menggunakan metodde-metode dan prosedur yang digunakan oleh merekea bisa bervariasi tidak hanya dari klien yang satu kepada klien lainnya, tetapi juga dari satu ke lain fase terapi yang dijalani oleh klien yang sama.

Teknik-teknik dalam aliran humanistik eksistensial

Tidak seperti kebanyakan pendekatan terapi, pendekatan eksistensial-humanistik tidak memiliki teknik-teknik yang ditentukan secara ketat. Prosedur-prosedur terapeutik bisa dipungut dari beberapa pendekatan terapi lainnya. Metode-metode yang berasal dari terapi Gestalt dan analisis transaksional sering digunakan, dan sejumlah prinsip dan prosedur psikoanalisis bisa diintegrasikan ke dalam pendekatan eksistensial-humanistik.

 

Sumber:

Corey, G. (2007). Teori dan praktek konseling dan psikoterapi. Bandung: Refika Aditama

Artikel 4: Konsep dasar tentang teori psikoanalisis tentang kepribadian

Nama: Siti Melani

NPM: 17512072

Kelas: 3PA01

Konsep dasar tentang teori psikoanalisis tentang kepribadian

Kesadaran

Bagi Freud, kesadaran merupakan bagian terkecil dari keseluruhan jiwa. Seperti gunung es yang mengapung yang bagian terbesarnya berada di bawah permukaan air, bagian jiwa yang terbesar berada di bawah permukaan kesadaran. Ketika ketidaksadaran itu menyimpan pengalaman-penngalaman, ingatan-ingatan, dan bahan-bahan yang direpresi. Kebutuhan-kebutuhan dan motivasi-motivasi yang tidak bisa dicapai-terletak di luar kesadaran-juga berada di luar daerah kendali. Freud juga percaya bahwa sebagian besar fungsi psikologis terletak di luar kawasan kesadaran. Oleh karena itu, sasaran terapi psikoanalitik adalah membuat moif-motif tak sadar menjadi disadarai, sebab hanya ketika menyadari motif-motifnyalah individu bisa melaksanakan pilihan: pemahaman terhadap peran ketidaksadaran itu penting guna menangkap esensi model tingkah laku psikoanalitik. Meskipun di luar kesadran, ketidaksadaran mempengaruhi tingkah laku. Proses-proses tidak sadar adalah akar segenap gejala dan tingkah laku neurotik. Drai perspektif ini, “penyembuhan” adalah upaya menyingkap makna-makna gejala-gejala, sebab-sebab tingkah laku, dan bahan-bahan yang drepresi yang merintangi fungsi psikologis yang sehat.

Struktur kepribadian

Menurut pandangan psikoanalitik, struktur kepribadian terdiri dari tiga sistem yaitu id, ego, superego. Ketiganya adalah nama bagi proses-proses psikologis dan jangan dipikirkan sebagai agen-agen yang secara terpisah mengoperasikan kepribadaian; merupakan fungsi-fungsi kepribadian sebagai keseluruhan daripada sebagai tiga bagian yang terasing satu sama lain. Id adalah komponen biologis, ego adalah komponen psikologis, sedangkan superego merupakan komponen sosial.

Mekanisme pertahanan ego

Mekanisme-mekanisme pertahanan ego membantu individu mengatasi kecemasan dan mencegah terlukanya ego. Mekanisme-mekanisme pertahanan ego itu tidak selalu patologis dan bisa memiliki nilai penyesuaian jika tidak menjadi suatu gaya hidup untu menghindari kenyataan. Mekanisme-mekanisme pertahanan yang digunakan oleh individu bergantung pada taraf perkembangan dan derajat kecemasan yang dialaminya. Mekanisme-mekanisme pertahanan sama-sama memiliki dua ciri: menyangkal atau mendistorsi kenyataan dan beroperasi pada taraf tidak sadar. Teori Freud adalah model pengurangan ketegangan atau sistem homeostatis. Beberapa bentuk mekanisme pertahanan ego yaitu penyangkalan, proyeksi, fiksasi, regresi, rasionalisasi, sublimasi, dis[lacement, represi dan formasi reaksi.

Perkembangan psikoseksual

Sumbangan yang berarti dari model psikoanalitik adalah pelukisan tahap-tahap perkembangan psikososial dan psikoseksual individu dari lahir hingga dewasa. Kepada konselor ia menyuguhkan perangkat-perangkat konseptual bagi pemahaman kecenderungan-kecenderungan dalam perkembangan, karakteristik tugas-tugas perkembangan utama dari berbagai taraf pertumbuhan, fungsi persoanal dan sosial yang normal dan abnormal, kebutuhan-kebutuhan yang kritis berikut pemuasan dan frustasinya, sumber-sumber kegagalan perkembangan kepribadian yang mengarah pada masalah-masalah penyesuaian di kemudian hari, serta penggunaan mekanisme-mekanisme pertahanan ego yang sehat dan yang tidak sehat. Pemahaman terhadap pandangan psikoanalitik tentang perkembangan adalah hal yang esensial jika seorang konselor menangani para kliennya secara mendalam. Masalah-masalah yang paling khas yang dibawa orang-orang ke dalam situasi-situasi konseling individual maupun kelompok, terdiri dari: (1) ketidakmampuan menaruh kepercayaan pada diri sendiri dan pada orang lain, ketakutan untuk mencintai dan membentuk hubungan yang intim, dan rendahnya rasa harga diri; (2) ketidakmampuan mengakui dan mengungkapkan perasaan-perasaan benci dan marah, penyangkalan terhadap kekuatan sendiri sebagai pribadi, dan kekurangan perasaan-perasaan otonom; (3) ketidakmampuan menerima sepenuhnya seksualitas dan perasaan-perasaan seksual diri sendiri, kesulitan untuk menerima  diri sendiri sebagai pria atau wanita, dan ketakutan terhadap seksualitas. Menurut pandangan psikoanalitik Freudian, ketiga area perkembangan personal dan sosial (cinta dan rasa percaya, penanganan perasaan-perasaan negatif, dan pengembangan penerimaan yang positif terhadap seksualitas) itu berlandaskan lima tahun pertama dari kehidupan. Periode perkembangan ini merupakan landasan bagi perkembangan kepribadian selanjutnya.

  • Tahun pertama kehidupan: fase oral
  • Usia satu sampai tiga tahun: fase anal
  • Usia tiga sampai lima tahun: fase falik

 

Unsur-unsur Terapi

Munculnya masalah

Pandangan Freudian tentang sifat manusia pada dasarnya pesimistik, deterministik, mekanistik, dan reduksionistik. Menurut Freud, manusia dideterminasi oleh kekuatan-kekuatan irasional, motivasi-motivasi tak sadar, kebutuhan-kebutuhan dan dorongan-dorongan biologis dan naluriah, dan oleh peristiwa-eristiwa psikoseksual yang terjadi selama lima tahun pertama dari kehidupan. Manusia dipandang sebagai sitem-sistem energi. Freud juga menekankan peran naluri-naluri. Menurut Freud, tujuan segenap kehidupan adalah kematian; kehidupan tak lain adalah jalan melingkar ke arah kematian.

Tujuan terapi dan peran terapis

Tujuan terapi psikoanaitik adalah membentuk kembali struktur karakter individual  dengan jalan membuat kesadaran yang tidak disadari di dalam diri klien. Proses terapeutik difokuskan pada upaya mengalami kembali pengalaman-pengalaman masa anak-anak. Pengalaman-pengalaman masa lampau direkonstruksi, dibahas, dianalisis, dan ditafsirkan dengan sasaran merekonstruksi kepribadian. Terapi psikoanalitik menekankan dimensi afektif dari upaya menjadikan ketidaksadaran diketahui. Pemahaman dan pengertian intelektual memiliki arti penting, tetapi perasaan-perasaan dan ingtan-ingatan yang berkaitan dengan pemahaman diri lebih penting lagi.

Karakteristik psikoanalisis adalah terapis atau analis membiarkan dirinya anonim serta hanya berbagi sediki perasaan dan pengalaman sehingga klien memproyeksikan dirinya kepada analis. Proyeksi-proyeksi klien, yang menjadi bahan terapi, ditafsikan dan dianalisis.

Teknik-teknik terapi

Free association

Analisis meminta kepada klien agar membersihkan pikirannya dari pemikiran-pemikiran dan renungan-renungan sehari-hari dan sebisa mungkkin, mengatakan apa saja yang melintas dalam pikirannya, betapapun menyakitkan, tidak logis dan tidak relevan kedengarannya. Asosiasi bebas adalah suatu metode pemanggilan kembali pengaaman-pengalaman masa lampau dan pelepasan emosi-emosi yang berkaitan dengan situasai-situasi traumatik di masa lampau, yang dikenal dengan sebutan katarsis.

Analisis transference

Transferensi mengejawantahkan dirinya dalam proses terapeutik ketika “urusan yang tak selesai” di masa lampau klien dengan orang-orang yang berpengaruh menyebabkan dia mendistorsi masa sekarang dan bereaksi terhadap analis sebagaimana dia bereaksi terhadap ibu atau ayahnya.

Analisis resistens

Resistensi addalah sesuatu yang melawan kelangsungan terapi dan mencegah klien mengemukakan bahan yang tidak disadari. Freud memandang resistensi sebagai dinamika tak sadar yang digunakan oleh klien sebagai pertahanan terhadap kecemasan yang tidak bisa dibiarkan, yang akan meningkat jika klien menjadi sadar atas dorongan-dorongan dan perasaan-perasaannya yang direpresi itu.

Analisis mimpi

Analisis mimpi adalah sebuah prosedur yang penting untuk menyingkap bahan yang tidak disadari dan memberikan kepada klien pemahaman atas beberapa area masalah yang tidak terselesaikan. Freud memandang mimpi-mimpi sebagai “jalan istimewa menuju kesadaran”, sebab melalui mimpi-mimpi itu hasrat-hasrat, kebutuhan-kebutuhan, dan ketakutan-ketakutan yang tidak disadari diungkapkan.

 

Sumber:

Corey, G. (2007). Teori dan praktek konseling dan psikoterapi. Bandung: Refika Aditama

Artikel 3: Person Centered Therapy (Rogers)

Nama: Siti Melani

NPM: 17512072

Kelas: 3PA01

Person Centered Therapy (Rogers)

Carl Rogers adalah orang yang diidentikkan dengan konseling tipe ini. Ia adalah tokoh yang pertama-tama memformulasikan teori ini dalam bentuk psikoterapi nondirektif di dalam bukunya Counseling and Psychotherapy, yang terbit pada tahun 1942. Teori tersebut kemudian berkembang menjadi client-centered/person-centered counseling dan diaplikasikan untuk pendekatan kelompok, keluaraga, masyarakat dan juga untuk individu.

Carl R Rogers  mengembangkan terapi client-centered sebagai reaksi terhadap apa yang disebutnya keterbatasan-keterbatasan mendasar dari psikoanalisis. Pendekatan client-centered adalah cabang khusus dari terapi humanistik yang menggarisbawahi tindakan mengalami klien berikut dunia subjektif dan fenomenalnya.

 

Sumber:

Corey, G. (2007). Teori dan praktek konseling dan psikoterapi. Bandung: Refika Aditama

Artikel 2: Terapi Humanistik Eksistensial

Nama: Siti Melani

NPM: 17512072

Kelas: 3PA01

Terapi Humanistik Eksistensial

Psikologi telah lama didominasi oleh pendekatan empiris terhadap studi tentang tingkah laku individu. Figur utama dalam terapi eksistensial humanistik yaitu May, Maslow, Frankl, dan  Jourard. Istilah humanistik dalam hubungannya dengan konseling, memfokuskan pada potensi individu untuk secara aktif memilih dan membuat keputusan tentang hal-hal yang berkaitan dengan dirinya sendiri dan lingkungannya. Pendekatan eksistensial-humanistik, di lain pihak, menekankan renungan-renungan filosofis tentang apa artinya menjadi manusia yang utuh. Terapi eksistensial berpijak pada premis bahwa manusia tidak bisa melarikan diri dari kebebasan dan bahwa kebebasan dan tanggung jawab itu saling berkaitan. Dalam penerapan terapeutiknya, eksistensial-humanistik memusatkan perhatian pada asumsi-asumsi filosofis yang melandasi terapi. Pendekatan eksistensial humanistik menyajikan suatu landasan filosofis bagi orang-orang dalam hubungan dengan sesamanya yang menjadi ciri-khas, kebutuhan yang unik dan menjadi tujuan konselingnya, dan yang melalui implikasi-implikasi bagi usaha membantu individu dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan dasar yang menyangkut keberadaan manusia.

Sumber:

Corey, G. (2007). Teori dan praktek konseling dan psikoterapi. Bandung: Refika Aditama

Lesmana, J. M. ( 2008). Dasar-dasar konseling. Jakarta: UI-Press